Selasa, 13 Juni 2017

Bertumbuh



Bertumbuh...

Merupakan sebuah proses di mana kemamuan untuk menerima itu ada. Menerima keadaan, menerima kehadiran orang lain, menerima hal baru, menerima berbagai pelajaran yang disuguhkan di alam ini. Ya, penerimaan itu bukan perkara mudah. Berbagai friksi kerap kali dirasakan bila perbedaan itu nyata terlihat. Pilihannya ada dua, beranjak atau berjuangan menghadapi proses penerimaan dengan mencerna berbagai nilai yang disuguhkan.

Tentunya penerimaan yang dilakukan bersifat aktif. Berbeda dengan pasrah dan tidak melakukan apa-apa. Namun penerimaan yang penuh dengan kelapangan dada untuk memahami, berusaha memperbaiki serta senantiasa bertahan untuk dapat melewati proses.

Layaknya sebutir biji yang ditaman di dalam tanah akan beranjak tumbuh, ia harus mengalami berbagai proses penerimaan yang tidak mudah. Pertama, ia harus berada tertimbun oleh tanah. Terlalu gelap dan pengap, ia harus bisa berkawan dengan cacing tanah, semut, dan segala jenis makhluk hidup di sana. Atau ia harus berhadapan dengan jamur yang mungkin bisa membunuhnya perlahan. Sehingga ia harus berusaha bertahan dengan berbagai kondisi hingga akhirnya akar bisa muncul membuatnya kuat. Kemudian baru lah dapat menembus gelapnya tanah menandakan ia telah bertumbuh menjadi bentuk lain yang siap untuk memberi manfaat.

Seperti halnya seekor ayam yang harus berjuang menembus kerasnya cangkang sebelum akhirnya ia menjadi sosok yang sempurna. Setelah berhasil menembus cangkang telur, ia pun masih harus melakukan penerimaan terhadap kondisi lingkungan yang baru. Belum lagi bila pemangsa-pemangsa mulai hadir, ia harus bertahan sebagai wujud penerimaan untuk bisa menyelamatkan diri sendiri sebelum akhirnya ia bisa tumbuh besar dan memberikan manfaat lebih banyak lagi.

Begitu pula manusia yang diberikan akal pikiran. Sejak lahir pun telah diajarkan banyak penerimaan hidup. Dari yang awalnya berada di lautan air ketuban hingga harus bisa menghirup napas di udara. Serta berbagai penerimaan lain yang senantiasa mengiringi hingga saat ini. Ketika penerimaan itu sudah hadir maka berbagai sikap positif lain akan menyertai sebagai tanda lulusnya proses penerimaan.  Selamat melewati berbagai proses penerimaan, agar kita dapat senantiasa bertumbuh dan selalu siap untuk menebar banyak kebaikan di manapun berada.

Sabtu, 13 Februari 2016

Buku dan Penghapus

Buku itu sudah hampir penuh. Tiap lembarannya telah penuh kata-kata, coretan, hingga tiap halaman sesak terisi. Tinggal beberapa halaman lagi yang masih kosong dan terhindar dari noda tinta. Kembali lagi ku bolak balik halaman demi halaman dari depan untuk memastikan bahwa tulisan itu telah merata tak meninggalkan celah.

Awalya aku berpikir untuk kembali menulis dan memenuhi sisa lembaran kosong tersebut. Namun, sejurus kemudian aku berubah pikiran. Setelah lama memandang langit yang biruya membawa kedekatan tersirat, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil penghapus. Ukurannya tak begitu besar, tapi sepertinya sanggup untuk menghapus beberapa kata dari lembar yang penuh coretan terakhir.

Ya, dan aku mulai menghapus. Kata demi kata, baris demi baris, hingga satu halaman pun telah terhapus. Mungkin tulisanku terlalu tebal hingga penghapus itu tak sanggup untuk mengenyahkan semua kata yang guratannya telah terukir di atas kertas. Namun, aku tetap berusaha menghapus walau bila diteliti dari dekat semua tulisan itu masih tertata rapi sama seperti sebelumnya. Halaman tiap halaman pun telah aku bersihkan. Lebih tepatnya mungkin mengurangi ketebalan tinta. Karena bila memang mau menghilangkan seluruh kata jalan satu-satunya adalah mendaur ulang buku itu. Tapi ternyata aku tak sampai hati untuk melakukannya.

Ya, sekarang dari jauh nampak hanya beberapa halaman saja yang masih tersisa tulisannya. Aku memandang takjub akan pekerjaanku. Pasalnya, tak pernah tepikirkan sedikit pun untuk menghilangkannya tapi Sang Pengendali waktu ternyata dapat merubah semua. Tak mengapa, karena sebenarnya aku pun masih mengingat jelas tiap kata yang pernah kutuliskan. Kecuali bila waktu memang menuntutku untuk melupakannya dengan berbagai cara yang tak pernah kuduga.

Kembali aku menatap buku itu dengan banyak pertanyaan. Mungkinkah aku harus menghapusnya lagi atau aku kembali menulis lanjutannya yang sama dengan sebelumnya? Atau waktu dan segala ketetapanNya mengajakku untuk menulis dengan cerita lain yang belum pernah terpikirkan sedikit pun?

Ya sudah lah. Aku tetap siap menyediakan alat tulis apa pun yang akan terjadi pada akhirnya. Lucunya, aku pun akan terus menulis biar pun suatu saat aku mungkin akan menghapus beberapa kisah yang telah ku buat alurnya. Kecuali bila memang aku ditakdirkan untuk berhenti menulis karena segala ketetapanNya, aku pun harus menerima dan siap untuk itu.